Rabu, 24 September 2014

Jembatan Timbang Wonogiri,kembali beroperasi


Solopos.com, WONOGIRI - Jembatan Timbang Selogiri (JTS) di Wonogiri kembali beroperasi mulai Rabu (17/9/2014). Jembatan timbang tersebut ditutup sementara lantaran perbaikan untuk peningkatan kapasitas muatan sejak awal Juni lalu.
Kini, kapasitas muatan JTS bertambah dari 50 ton menjadi 80 ton. Adapun panjang jembatan juga bertambah dari 12 meter menjadi 14 meter.

Kasi Pengawasan dan Operasional Unit Pelayanan Perhubungan (UPP) Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) wilayah Wonogiri, Budiyanto, mengatakan sesuai peraturan daerah (perda) Provinsi Jateng No 1/2012 tentang Pengendalian Angkutan Barang,  jumlah muatan angkutan barang harus sesuai ketentuan.
“Batas maksimum muatan yang diizinkan untuk wilayah Wonogiri 7,5 ton-8 ton. Jika ada angkutan barang yang melanggar akan diberi tilang. Muatan angkutan barang akan diturunkan jika sudah melanggar aturan berkali-kali,” katanya saat ditemui solopos.com di kantornya, Rabu.

Pemeriksaan kendaraan angkutan barang akan melibatkan polisi lalu lintas dan anggota TNI. Hal ini dilakukan untuk mencegah praktik pungutan liar (pungli) yang kerap terjadi di jembatan timbang.
Tak hanya itu, jumlah petugas di jembatan timbang akan ditambah dua kali lipat. Saat ini, jumlah petugas di jembatan timbang sekitar 30 personel.

Tambahan petugas itu berasal dari jembatan timbang di Jateng yang ditutup pasca Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo marah-marah memergoki aksi pungutan liar (pungli) di Jembatan Timbang Subah, Kabupaten Batang pada April lalu.
Seorang sopir truk, Warjiman, menuturkan dia mendukung pengawasan pemeriksaan angkutan barang di setiap jembatan timbang.

Air Zam-Zam


Siapa yang tak kenal air Zamzam. Rasanya yang segar dan menyejukkan, khasiat yang dikandung, plus keutamaan-keutamaannya yang disebutkan di dalam hadits-hadits merupakan beberapa alasan kenapa air yang dijadikan oleh-oleh haji yang satu ini banyak ditunggu..

Sumur Zamzam adalah sumur yang digali oleh malaikat. Disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dalam riwayat Al-Bukhari rahimahullahu bahwasanya tatkala Hajar, istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, ditinggalkan sendiri di lembah Mekah, bayi Nabi Ismail menangis kehausan. Hajar pun melihat keadaan sekitar (waktu itu Mekah adalah tempat yang tandus, tidak ada mata air sehingga tidak ada penghuninya). Dia berbolak-balik dari bukit Shafa dan Marwah, mencari bala bantuan. Hingga, pada kali yang ketujuh dia mendengar suara. Ternyata, itu adalah malaikat yang sedang membuat sebuah mata air.

Mata air inilah yang menjadi cikal bakal kota Mekah. Karena air adalah sesuatu yang sangat berharga di padang pasir, orang pun mulai berdatangan untuk singgah. Ditambah Ka’bah yang merupakan tempat haji bagi penganut agama Nabi Ibrahim ‘alaihis salam, Kota Mekah pun menjadi sebuah kota penting.

Dahulu, sumur Zamzam sempat terkubur dan tertinggalkan. Hingga, Abdul Muththalib, kakek Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, menggalinya kembali. Disebutkan oleh ahli sejarah Islam, Ibnu Ishaq rahimahullahu (w. 150 H) dalam sebuah riwayat dari Ali bin Thalib radhiyallahu ‘anhu, dia menuturkan bahwa saat Abdul Muththalib sedang tidur di Hijr (yang sekarang lebih dikenal dengan Hijr Ismail), dia bermimpi untuk menggali sumur. Demikianlah, akhirnya dia pun menggali sumur tersebut untuk memberi minum orang-orang yang berhaji (syariat haji sudah ada sejak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihis salam).

Sumur Zamzam berada di dalam kompleks Masjidil Haram sekitar 20 m di timur Ka’bah. Dalamnya sekitar 30,5 m dan diameter sekitar 1,8-2,66 m. Dari sisi ilmu hidrologi, sumur Zamzam terletak di lembah Ibrahim yang terbentang di sepanjang kota Mekah Al-Mukarramah. Sumur ini menyerap air tanah pegunungan sekitarnya.

Skematis sumur Zamzam adalah sebagai berikut: Dari permukaan tanah hingga kedalaman 13,5 m terdiri atas lapisan aluvium lembah Ibrahim yang terdiri dari pasir halus, kemudian 0,5 m setelahnya merupakan lapisan batu permeabel, dan selebihnya sekira 17 m hingga dasar sumur adalah lapisan batuan beku diorit.

Minggu, 30 Maret 2014

Banijir Di Wonogiri


WONOGIRI — Hujan deras yang terjadi pada Senin (24/3/2014) malam menyebabkan enam desa di Kecamatan Selogiri, Woniogiri, terendam banjir, Selasa (25/3/2014) pagi. Keenam desa tersebut adalah Desa Jendi, Desa Pule, Desa Jaten, Desa Kepatihan, Desa Gemantar dan Desa Singodutan.

Air mulai menggenangi rumah warga pada Rabu sekitar pukul 05.40 WIB. Hingga berita ini ditulis, otoritas Kecamatan Selogiri masih mendata rumah yang terendam dan infrastruktur yang mungkin rusak. Banjir menggenangi lahan sawah dan rumah warga di lima desa itu.

Camat Selogiri, Bambang Haryanto mengatakan, pihaknya sudah mendapat laporan terjadinya musibah itu. “Kami sudah berkoordinasi dengan tim SAR, PMI, BPBD Wonogiri, Dinsos Wonogiri, dan instansi terkait. Tidak ada korban jiwa tetapi dikabarkan infrastruktur jembatan rusak.”
Salah seorang warga Brajan, Desa Singodutan, Hartono mengaku rumahnya terendam air sejak pukul 05.30 WIB. Hingga berita ini ditulis warga bersama tim relawan melakukan penyelamatan barang dan menepi ke lokasi aman. Ketinggian air dikabarkan  mencapai 40 cm hingga satu meter.

Sementara itu, Hujan dengan curah tinggi yang mengguyur Selogiri, Jumat (28/3/2014) pagi, juga mengakibatkan jembatan antardusun di Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, putus. Jembatan yang dibangun swadaya warga pada beberapa tahun terakhir tak mampu menahan derasnya air bah.

Akibatnya warga yang hendak menyeberang antardusun di desa itu harus memutar jalan. Kepala Desa Keloran, Maryanto menjelaskan, lenyapnya jembatan diketahui Jumat pagi. Menurutnya, bangunan jembatan yang menghubungkan antardusun itu diperkirakan hanyut Jumat dini hari sekitar pukul 02.15 WIB saat hujan deras semalam. Jembatan yang terletak di Dusun Keloran RT 001/RW 005, Desa Keloran, Selogiri itu, memiliki panjang 15 meter, tinggi 5 meter dan lebar 3 meter.

Dia sudah melakukan pengecekan dan melaporkannya ke Camat Selogiri. Maryanto menyatakan, warga tidak mampu membangun jembatan itu lagi karena sedang dilanda bencana. “Kami berharap, perbaikan jembatan ditangani oleh pemerintah kabupaten. Jembatan itu menghubungkan antardusun, yakni warga RT 001 dan warga RT 002.”

Selain itu, jebolnya talut Bendung Krapyak di Dusun/Desa Kepatihan akibat banjir pada Selasa (25/3/2014), mengancam lahan pertanian seluas 20 hektare kering. Selama ini, keberadaan bendung itu dimaksudkan sebagai penahan laju air agar bisa dimanfaatkan untuk air irigasi di Desa Kepatihan hingga Desa Pule. Hingga kini, bendung tersebut belum ditangani.

Lebih lanjut dikatakannya, selain jembatan, pagar rumah milik Mardi, warga Dusun Mlati juga ambrol. Pagar yang ambrol tersebut memiliki panjang 10 meter dan tinggi 4 meter. Terpisah, Kades Kepatihan, Sutrisno, menjelaskan Bendung Krapyak berfungsi menahan arus air dari Dam Pakis. “Jebolnya talut Bendung Krapyak mengakibatkan air dari dam tidak tertahan. Akibatnya air itu turun percuma sehingga tidak bisa dimanfaatkan untuk pengairan lahan persawahan.”

Sutrisni menegaskan, jika tidak segera diperbaiki patani Kepatihan dan Pule kembali mengandalkan air hujan. “Jika Bendung Krapyak jebol, lahan persawahan seluas 20 hektare menjadi lahan tadah hujan.”

Sumber : solopos.com

Pelajaran dari Meletusnya gunung


Beberapa minggu yang lalu  negara kita sedang dilanda berbagai bencana. Ada dua bencana terkait gunung yaitu gunung Sinabung dan gunung Kelud. Kedua gunung ini sudah membuat beberapa masyarakat disekitarnya baik jauh dan dekat merasakan dampaknya. Misalnya saja gunung Kelud yang abunya menyebar cukup jauh dan bisa melumpukan aktifitas dibeberapa tempat.

Ketika gunung-gunung dihancurkan

Beberapa kejadian ini bisa diambil hikmahnya, salah satunya merenungi bahwa ini belum ada apa-apanya dengan hari ketika gunung-gunung dihancurkan kelak. Dan hendaknya kejadian ini bisa menambah keimanan dan keyakinan kita.
Allah Ta’ala berfirman,
وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا
dan gunung-gunung dihancur luluhkan sehancur-hancurnya. maka jadilah ia debu yang beterbangan” (Qs. Al-Waqi’ah: 5-6)
Imam Ibnu Katsir membawakan tafsir Qatadah, beliau berkata: “maksud dari ‘debu yang berterbanga’n adalah sebagaimana bagian-bagian yang kering dari (sisa-sisa) pepohonan yang tertiup di bawa oleh angin.”1
Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذَا الْجِبَالُ نُسِفَتْ
dan apabila gunung-gunung telah dihancurkan menjadi debu (QS. Al-Mursalat: 10).
Allah Ta’ala berfirman,
وَ تَكُونُ الْجِبَالُ كَ الْعِهْنِ الْمَنفُوشِ
dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan” (QS. Al-Qari’ah: 5).
Demikianlah keadaan hari kiamat kelak, yaitu gunung-gunung dihancurkan dan berpindah dari tempatnya (meledak) kemudian menjadi debu yang berterbangan. Syaikh Asy-Syinqithi rahimahullah menjelaskan, “gunung-gunung akan dicabut dari tempatnya dan terlepas. Kami telah menjelaskan, pendapat terkuat adalah yang pertama dengan penjelasan yang lengkap mengenai keadaan gunung –gunung pada hari kiamat.”2
Pakar tafsir Syaikh As-Sa’di rahimahullah berkata, maka jadilah bumi tidak ada gunung lagi, tidak ada penanda (bentuk-bentuk) di bumi.”3

Musibah juga bisa karena dosa perbuatan manusia

Tentu saja ini tidak semata-mata karena kejadian alam saja akan tetapi terkait juga dosa perbuatan manusia, bisa jadi sudah banyak maksiat dan dosa yang sudah merajalela. Allah Ta’ala berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (Qs. Ar-Rum: 41)
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy Syura: 30).

Bertaubat, intropeksi dan mencari hikmah

Setiap musibah pasti ada hikmahnya agar manusia intropeksi dan muhasabah. Tidak mungkin Allah menurunkan musibah agar manusia musnah dan agar manusia mengalami kesusahan saja. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَى ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ
Dan kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi suatu mahluk yang melata pun” (QS. Fathir: 45).
Dan setiap musibah pasti merupakan penghapus dosa-dosa manusia jika mereka bersabar,
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيْبُهُ أَذًى مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلاَّ حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا
Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya4
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلاَ نَصَبٍ وَلاَ سَقَمٍ وَلاَ حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلاَّ كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
Tidaklah seorang mukmin tertimpa suatu musibah berupa rasa sakit (yang tidak kunjung sembuh), rasa capek, rasa sakit, rasa sedih, dan kekhawatiran yang menerpa melainkan dosa-dosanya akan diampuni5
Dan kita berharap ini adalah awal kebaikan dari Allah Ta’ala dan memberikan kita kebaikan yang banyak. Karena Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوْبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang hamba, maka Allah menyegerakan siksaan baginya di dunia6
 Nabi shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,
يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَّ جُلُودَهُمْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ مِمَّا يَرَوْنَ مِنْ ثَوَابِ أَهْلِ الْبَلاَءِ.
Manusia pada hari kiamat menginginkan kulitnya dipotong-potong dengan gunting ketika di dunia, karena mereka melihat betapa besarnya pahala orang-orang yang tertimpa cobaan di dunia.”7
@Pogung Kidul, Yogyakarta tercinta
Catatan Kaki
1 Tafsir Ibnu Katsir 7/515, Darut Thayyibah, 1420 H, syamilah
2 Adwa’ul Bayan, tafsir surat Al-Waqi’ah
3 Taisir Karimir Rahmah hal 832, Mu’assasah Risalah, 1420 H, Asy Syamilah
4 HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 651
5 HR. Muslim no. 2573
6 HR. At-Tirmidziy no.2396 dari Anas bin Malik, lihat Ash-Shahiihah no.1220
7 HR. Baihaqi: 6791, lihat ash-Shohihah: 2206.

Sabtu, 16 November 2013

Realita Umat Islam Saat Ini



Saat itu, tepat 17 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memandangi pasukan musuhnya yang berjumlah seribu orang dan pasukan yang dibawanya sejumlah 310 lebih sedikit. Hamba mulia ini memanjatkan doa yang begitu mengharu biru di tengah pasukannya yang amat sedikit dan apa adanya, melawan pasukan kafir Quraisy  yang tiga kali lipat menghadang di hadapan mereka di padang Badar. Dengan menghadap Kiblat dan mengangkat kedua tangannya, Beliau berdoa: 
اللهم! أنجز لي ما وعدتني. اللهم! آت ما وعدتني. اللهم! إن تهلك هذه العصابة من أهل الإسلام لا تعبد في الأرض

 Ya Allah! Penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah! Berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah!  jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, … maka tidak ada lagi yang menyembahMu di muka bumi.”
Beliau senantiasa berdoa dengan suara tinggi seperti itu dan menggerakan kedua tangannya yang sedang menengadah dan menghadap Kiblat, sampai-sampai selendang yang dibawanya jatuh dari pundaknya. Lalu Abu Bakar menghampirinya dan meletakkan kembali selendang itu di pundaknya dan dia terus berada di belakangnya. Lalu Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu berkata: 
يا نبي الله! كذاك مناشدتك ربك. فإنه سينجز لك ما وعدك
 “Wahai Nabi Allah! Inilah sumpahmu kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia akan memenuhi apa yang dijanjikanNya kepadamu.”
Lalu turunlah firman Allah Ta’ala: 
إذ تستغيثون ربكم فاستجاب لكم أني ممدكم بألف من الملائكة مردفين
 “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: "Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut." (QS. Al Anfal (8): 9). (HR. Muslim No. 1763, At Tirmidzi No. 5075, Ibnu Hibban No. 4793. Ahmad No. 208, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/95)
 Lalu, terjadilah pertempuran yang sebenarnya tidak seimbang itu, namun karena kekuatan iman, kekuatan ukhuwah, kepemimpinan yang berwibawa, serta ditopang strategi yang jitu, kaum Muslimin berhasil memenangkan pertempuran yang disebut dalam Al Quran sebagai “Yaumul Furqan” (Hari Pembeda). Hari yang membedakan antara hak dan batil, antara periode dakwah yang selalu tertindas menjadi dakwah yang disegani.
Syahdan, pada masa khalifah Al Mu’tashim Billah (nama aslinya adalah Abu Ishaq Muhammad bin Harun Ar Rasyid), dia berkuasa sejak tahun 218  sampai 227 Hijriyah. Pada masanya, pasukan Islam mampu mengalahkan pasukan Romawi dengan kemenangan besar yang belum pernah terjadi pada khalifah-khalifah sebelumnya. Dia mampu memecahkan pasukan Romawi dan menembus masuk ke negeri Romawi, dan menewaskan 3000 pasukannya serta menawan yang lain sejumlah itu pula. (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 245. Cet. 1. 1425H-2004M. Maktabah Nizar Mushthafa Al Baz )
 Tahukah anda apa yang melatar belakangi pertempuran dengan Romawi kala itu? Yakni karena seorang muslimah diperkosa oleh pasukan Romawi. Lalu peristiwa memilukan ini diketahui oleh Khalifah Al Mu’tashim. Maka, demi menjaga kehormatan Islam dan kaum Muslimin, Khalifah Al Mu’tashim mengirim pasukan ke Romawi dengan armada pasukan yang sangat besar. Pasukan terdepan sudah sampai di ibu kota Romawi saat itu (yakni Konstantinopel -  Istambul saat ini) sedangkan pasukan paling belakang masih ada di istananya di Baghdad!. Ratusan  ribu  pasukan yang dikirim ke Romawi, ada yang meyebut 200 ribu lebih dan ada pula yang menyebut 500 ribu pasukan (Siyar A’lam An Nubala, 10/297), ternyata Romawi menyambutnya dengan peperangan, maka terjadilah pertempuran dahsyat yang dimenangkan pasukan Islam sebagaimana telah tertulis dalam sejarah Islam masa lalu.
 Lihatlah ini! Begitu berdayanya umat Islam, dan begitu tingginya wibawa kaum Muslimin, hanya karena seorang muslimah diperkosa, mereka tidak terima dan berbondong-bondong menggedor  Romawi dan berhasil meruntuhkan kerajaannya yang begitu besar dan ditakuti saat itu. Tetapi itu semua berhasil ditekuk dan hanyalah fatamorgana yang tidak berdaya apa-apa di depan  kekuatan iman dan ‘izzah Islam (kemuliaan Islam). Lalu bandingkanlah dengan dunia Islam saat ini.  Tak berdaya dan tidak berwibawa. Banyak jumlah namun sedikit keberanian, paling jauh hanya demonstrasi ketika melihat saudaranya dianiaya. Bukan lagi satu muslimah diperkosa, tetapi ribuan dijarah kehormatannya, anak-anak dibunuh atau dimurtadkan, mereka diusir dari kampung halamannya, dirampas harta kekayaannya, dan dikebiri perannya dalam percaturan dunia internasional. Kaum Muslimin hanya mampu mengecam, mengutuk, dan mengadakan sidang, tetapi tidak ada aksi nyata seperti  Khalifah Al Mu’tashim terhadap Romawi.
 Berkata Imam Adz Dzahabi Rahimahullah:
كان المعتصم من أعظم الخلفاء وأهيبهم، لولا ما شان سؤدده بامتحان العلماء بخلق القرآن.
 “Al Mu’tashim, dahulu adalah termasuk di antara Khalifah yang paling agung dan paling pemalu di antara mereka, seandainya saja dia tidak mengotori kekuasaannya lantaran menyiksa ulama dalam masalah kemakhlukan Al Quran.” (Imam As Suyuthi, Tarikhul Khulafa’, Hal. 244)
Di atas, hanya sedikit contoh kehebatan kaum Muslimin masa lalu. Itu pun dari satu sisi saja, yakni kekuatan dan kewibawaannya. Kita belum membicarakan ketinggilan ilmu pengetahuan dan peradaban dunia Islam, dan dibutuhkan banyak halaman untuk menceritakannya.
 Saat ini kita hidup di alam real (nyata) umat Islam. Biarlah romantisme masa lalu itu tetap ada dan menghujam dalam dada kita sebagai bekal dan spirit untuk meraih kembali  kejayaan yang hilang itu. Tetapi, kita tidak boleh berlama-lama dalam dunia lamunan, romantisme kejayaan, dan – apalagi - tangisan meratapi puing-puing kehancuran peradaban Islam pasca (setelah) runtuhnya simbol kekuatan dan pemersatu umat Islam, yakni Khilafah Turki Utsmaniyah pada tahun 1924 M di Turki, yang dihapuskan oleh si musuh Turki (A’da At Turk – inilah istilah yang diberikan ulama turki kepadanya), yakni  Mustafa Kamal. Ada pun sejarawan sekuler menjulukinya Attaturk (Bapaknya Turki).
 Realita umat Islam hari ini, jika kita lihat, ternyata terhimpun  menjadi empat penyakit yang mesti disembuhkan dengan cepat. Penyakit itu adalah:
1.Al Jahlu (Kebodohan)
 Apa yang dimaksud kebodohan di sini? Bukankah dunia Islam – sebagaimana dunia Barat- juga memiliki kampus-kampus bergengsi, kecil dan dewasa, pria dan wanita berbondong-bondong menuju bangku sekolah dan kuliah, berbeda dengan masa lalu?
 Kebodohan di sini adalah ketiadaan ma’rifah (pengetahuan mendalam) mereka terhadap Rabb dan agamanya. Bisa jadi memang, dunia Islam tidak kalah canggih dan intelek, tetapi itu hanyalah pengulangan kondisi Arab sebelum datang Islam. Dunia Arab sebelum Islam, juga memiliki peradaban tinggi yang terbukti dari kemampuan mereka membuat tata kota yang bagus, pengairan sawah yang baik, serta karya seni bernilai tinggi. Tetapi, sejarah Islam tetap  memposisikan mereka sebagai  era  Jahiliyah. Sebab, keilmuan yang mereka miliki tidak mampu menolong mereka untuk mengetahui siapa Tuhan mereka sebenarnya, justru mereka menyembah dan mengagungkan produk budaya mereka sendiri yaitu berhala-berhala yang indah yang mereka ciptakan.
 Perhatikan umat Islam saat ini, umumnya mereka jauh dari agamanya, jauh dari Al Quran dan Sunnah nabinya, tetapi lebih dekat  bahkan sampai taraf memberikan cinta terhadap budaya, pemikiran dan akhlak Barat yang nota bene non muslim yang justru hendak menghancurkannya. Sayangnya mereka tidak menyadarinya.
 Hal ini membawa dampak lainnya; masjid yang sepi kecuali shalat Jumat, merosotnya moral baik pejabat atau rakyatnya, ibadah hanya menjadi rutinitas kosong belaka tanpa bekas dan pengaruh dalam kehidupan, ulama tidak berwibawa baik ilmu dan perbuatannya, pergaulan bebas remaja, angka perceraian yang tinggi, pornografi dan porno aksi dianggap biasa, dan segudang permasalahan lainnya.   Ini semua berawal dari kebodohan terhadap agama, sebab Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah berjanji bahwa berbagai kebaikan – termasuk kebaikan dalam urusan dunia dan ilmu pengetahuan- akan datang bersamaan dengan pemahaman yang benar terhadap agama.